Selasa, 20 Desember 2011

Kalimat dalam Bahasa Indonesia


TATA KALIMAT DALAM BAHASA INDONESIA

Kalimat adalah kumpulan kata-kata yang memiliki subjek (S) dan preidkat (P). Jika keduanya tidak dimiliki, berarti itu bukan kalimat, melainkan frasa. Dalam kalimat yang utuh, harus di awali dengan huruf kapital dan di akhiri tanda baca seperti titik (.), tanda seru (!), tanda tanya (?).

POLA KALIMAT DASAR
Setelah membicarakan beberapa unsur yang membentuk sebuah kalimat yang benar, kita telah dapat menentukan pola kalimat dasar itu sendiri. Berdasarkan penelitian para ahli, pola kalimat dasar dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.
1.    KB + KK : Mahasiswa berdiskusi.
2.    KB + KS : Dosen itu ramah.
3.    KB + KBil : Harga buku itu sepuluh ribu rupiah.
4.    KB + (KD + KB) : Tinggalnya di Palembang.
5.    KB1 + KK + KB2 : Mereka menonton film.
6.    KB1 + KK + KB2 + KB3 : Paman mencarikan saya pekerjaan.
7.    KB1 + KB2 : Rustam peneliti.
Ketujuh pola kalimat dasar ini dapat diperluas dengan berbagai keterangan dan dapat pula pola-pola dasar itu digabung-gabungkan sehingga kalimat menjadi luas dan kompleks.

JENIS-JENIS KALIMAT

  I.            Berdasarkan Pengucapan

  A.          Kalimat Langsung
Kalimat langsung adalah kalimat yang secara cermat menirukan ucapan orang. Kalimat langsung juga dapat diartikan kalimat yang memberitakan bagaimana ucapan dari orang lain (orang ketiga). Kalimat ini biasanya ditandai dengan tanda petik dua (“….”) dan dapat berupa kalimat tanya atau kalimat perintah.
Contoh:
-  Ibu berkata “Rohan, jangan meletakkan sepatu di sembarang tempat!”
-  “Saya gembira sekali” kata ayah,”karena kamu lulus ujian”.

  B.          Kalimat Tidak Langsung
Kalimat tak langsung adalah kalimat yang menceritakan kembali ucapan atau perkataan  orang lain. Kalimat tak langsung tidak ditandai lagi dengan tanda petik dua dan sudah dirubah menjadi kalimat berita.
Contoh:
-  Ibu berkata bahwa dia senang sekali karena aku lulus ujian.
-  Kakak berkata bahwa buku itu harus segera dikembalikan.

II.            Berdasarkan Struktur Gramatikal

  A.          Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah suatu kalimat yang terdiri dari satu subjek dan satu predikat. kalimat dapat diperluas dengan salah satu atau lebih unsur-unsur tambahan (objek dan keterangan), asalkan unsur-unsur tambahan itu tidak membentuk pola kalimat baru.
Kalimat Tunggal
Susunan Pola Kalimat
Anjing berlari.
Adik minum susu.
Ibu membeli ikan di pasar.
S-P
S-P-O
S-P-O-K

  B.          Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk yaitu suatu bentuk kalimat yang dapat diperluas, hasil penggabungan atau perluasan kalimat tunggal, sehingga membentuk satu pola kalimat baru disamping pola yang ada.
Ciri-ciri kalimat majemuk :
·         Ada penggabungan atau perluasan kalimat-kalimat inti
·         Perluasaannya menghasilkan kalimat baru
·         Mempunyai subjek dan predikat lebih dari satu (S-P)


Memperhatikan hubungan pola-pola kalimat pada kalimat majemuk, dapat kita bagi atas :
1)      Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara yaitu kalimat gabungan yang berhubungan antara pola-pola kalimat didalamnya, sejajar dan sederajat.
Ciri-ciri :
·         Kedudukan pola-pola kalimat sama derajatnya.
·         Berkata lugas/penghubung, pembeda sifat kesetaraannya.
·         Pola umum uraian jabatan kata : S – P + S – S
Contoh :  Ayah berangkat ke kantor dan ibu pergi ke pasar.
                     S            P            K              S       P          K          

Melihat sifat hubungan kesetaraannya, kalimat majemuk setara dibagi atas :
a.       Hubungan penambahan (setara sejalan)
Kalimat majemuk setara sejalan menggunkan kata-kata tugas / penghubung : dan, serta, lagi
pula, dan sebagainya.
Contoh :
-   Kami membaca dan mereka menulis
-   Dosen mulai bercerita serta kami asyik mendengarkan.

b.      Hubungan Pertentangan
Kalimat majemuk setara pertentangan menggunakan kata-kata penghubung : tetapi, melainkan, padahal, dan sedangkan.
Contoh :
-   Dia sangat rajin tetapi adiknya pemalas.
-   Ia bukan seorang peneliti, melainkan seorang pedagang.
-   Danau Toba terletak di Sumatera Utara, sedangkan Danau Poso terletak di Sulawesi Tengah.

c.       Hubungan Memilih
Biasanya memakai kata tugas : atau, baik, maupun.
Contoh :
-   Kamu mau minum teh atau kopi?
-   Baik anda sendiri yang datang maupun diwakilkan, sama saja.

d.      Hubungan Sebab Akibat
Menggunakan kata-kata tugas : sebab itu dan karena itu.
Contoh :
-   Budi tidak belajar dengan sungguh-sungguh, karena itu saat ujian ia mendapatkan nilai jelek.

2)      Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat tunggal yang bagian-bagiannya di perluas, sehingga perluasannya itu membentuk satu atau beberapa ppola kalimat baru, selain pola yangn sudah ada. Bagian kalimat yang diperluas sehingga membentuk pola kalimat bar itu disebut anak kalimat, sedangkan kalimat yang tetap disebut induk kalimat. Sifat anak kalimat menggantikan jabatan kata dalam kalimat tunggal, karena itu kedudukan anak kalimat bergantung kepada induk kalimat.
Ada beberapa penanda hubungan / konjungsi yang dipergunakan oleh kalimat majemuk bertingkat, yaitu:
·         Waktu : ketika, sejak
·         Sebab: karena, Olehkarenaitu, sebab, oleh sebab itu
·         Akibat: hingga, sehingga, maka
·         Syarat: jika, asalkan, apabila
·         Perlawanan: meskipun, walaupun
·         Pengandaian: andaikata, seandainya
·         Tujuan: agar, supaya, untuk biar
·         Perbandingan: seperti, laksana, ibarat, seolaholah
·         Pembatasan: kecuali, selain
·         Alat: dengan+ katabenda:  dengan tongkat
·         Kesertaan: dengan+ orang


Ditinjau dari unsur kalimat yang mengalami perluasan dikenal dengan adanya :

a.       Kalimat majemuk bertinggkat dengan anak kalimat perluasan subjek.
Contoh : Fenty tampil di atas panggung.
                 S               P                 O
Fenty Effendi, seorang penyanyi tenar sedang tampil di atas panggung.
          S                        P                                    P                        O
Anak kalimat perluasan subjek                                       O
                                                                                Induk kalimat
b.      Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat perluasan predikat.
Contoh :  Katanya begitu.
                   S          P
Katanya bahwa ia tidak sengaja memecahkan kaca jendela itu.
     S                           anak kalimat perluasan predikat

c.       Kalimat majemuk bertingkat dengan perluasan objek.
Contoh : Gina menyaksikan pertunjukkan.
                 S            P                 O
Gina menyaksikan murid-murid menari.
  Induk kalimat    anak kalimat perluasan objek

d.      Kalimat majemuk bertingkat dengan perluasan keterangan.
Contoh :  Ayah pulang malam hari.
                 S          P            K
Ayah pulang ketika kami makan malam.
Induk kalimat anak kalimat perluasan keterangan
Catatan : anak kalimat tidak selamanya harus di depan, tetapi dapat pula di tengah dan di belakang, tergantung pada bagian-bagian mana dari kalimat tunggal yang di perluasnya.
 



3)      Kalimat majemuk rapatan
Kalimat majemuk rapatan adalah kalimat majemuk setara yang bagian-bagian nya di rapatkan, karena kata-kata/ frase dalam kalimat tersebut menduduki jabatan yang sama. Perapatannya dengan cara menghilangkan unsur-unsur yang sama, misalnya subjek, predikat, objek dan keterangannya yang sama dapat di hilangkan.
Contoh :
-   Pekerjaannya hanya makan. (kalimat tunggal 1)
-   Pekerjaannya hanya tidur. (kalimat tunggal 2)
-   Pekerjaannya hanya merokok. (kalimat tunggal 3)
·         Pekerjaannya hanya makan, tidur, dan merokok. (kalimat majemuk rapatan)

4)      Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran yaitu kalimat kalimat majemuk yang di dalamnya terdapat kombinasi kalimat majemuk setara, rapatan dengan kalimat majemuk bertingkat.
Contoh :
-   Toni bermain dengan Kevin. (kalimat tunggal 1)
-   Rina membaca buku di kamar kemarin. (kalimat tunggal 2, induk kalimat)
-   Ketika aku datang ke rumahnya. (anak kalimat sebagai pengganti keterangan waktu)
·         Toni bermain dengan Kevin, dan Rina membaca buku di kamar, ketika aku datang ke rumahnya. (kalimat majemuk campuran)

III.            Berdasarkan Unsur Kalimat
Kalimat dapat dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu:
  A.          Kalimat Lengkap
Kalimat lengkap adalah kalimat yang sekurang-kurangnya terdiri dari  satu buah subyek dan satu buah predikat. Kalimat Majas termasuk ke dalam kalimat lengkap.
Contoh :
-   Mahasiswa berdiskusi di dalam kelas.
       S               P                  K
-   Ibu mengenakan kaos hijau dan celana hitam.
  S            P                              O

  B.          Kalimat Tidak Lengkap
Kalimat tidak lengkap adalah kalimat yang tidak sempurna karena hanya memiliki subyek saja, atau predikat saja, atau objek saja atau keterangan saja. Kalimat tidak lengkap biasanya berupa semboyan, salam, perintah, pertanyaan, ajakan, jawaban, seruan, larangan, sapaan dan kekaguman.
Contoh:
-   Selamat sore
-   Silakan Masuk!
-   Kapan menikah?
-   Hei, Kawan….

IV.            Berdasarkan Susunan  S-P
Kalimat dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
  A.          Kalimat Versi
Kalimat versi adalah kalimat yang predikatnya mendahului subjeknya. Kata atau frasa tertentu yang pertama muncul akan menjadi kunci yang akan mempengaruhi makna untuk menimbulkankesan tertentu, dibandingkan jika kata atau frasa ditempatkan pada urutan kedua. Kalimat ini biasanya dipakau untuk penekanan atau ketegasan makna.
Contoh:
-   Ambilkan koran di atas kursi itu!
             P                       S
-   Sepakat kami untuk berkumpul di taman kota.
   S           P                          K
  B.          Kalimat Inversi
Kalimat inversi adalah kalimat yang susunan dari unsur-unsur kalimatnya sesuai dengan pola kalimat dasar bahasa Indonesia (S-P-O-K).
Contoh:
-   Penelitian ini dilakukan mereka sejak 2 bulan yang lalu.
          S                 P            O                     K
-   Aku dan dia bertemu di cafe ini.
       S                 P            K

    V.        Berdasarkan Bentuk Gayanya (Retorika)
Tulisan akan lebih efektif jika di samping kalimat-kalimat yag di susunnya benar, juga gara retorikanya menarik perhatian pembacanya. Walaupun kalimat-kalimat yang di susunnya sudah gramatikal, sesuai dengan kaidah belum tentu tulisan itu memuaskan pembacanya jika segi retoriknya tidak memikat.
Menurut gaya retorikanya, kalimat majemuk dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu :

  A.          Kalimat Melepas (induk-anak)
Kalimat melepas yaitu kalimat yang disusun dengan di awali induk kalimat dan diikuti oleh anak kalimat. Unsur anak kalimat ini seakan-akan dilepaskan saja meskipun unsur ini tidak diucapkan, kalimat itu sudah bermakna lengkap.
Misalnya :
a)      Saya akan dibelikan mobil oleh Ayah jika saya lulus ujian sarjana.
b)      Semua warga negara harus menaati segala perundang-undangan yang berlaku agar kehidupan di negeri ini berjalan dengan tertib dan aman.

  B.          Kalimat Klimaks (anak-induk)
Kalimat klimaks adalah kalimat yang disusun dengan diawali oleh anak kalimat dan diikuti induk kalimat. Pembaca belum dapat memahami kalimat tersebut jika baru membaca anak kalimatnya, dan baru dapat di pahami jika setelah membaca induk kalimat.
Misalnya :
a)      Karena macet, iya datang terlambat ke sekolah.
b)      Setelah 3 bulan di sekap dalam sebuah ruangan akhirnya dua sandera WNI itu dibebaskan juga.

  C.          Kalimat Berimbang (setara atau campuran)
Kalimat berimbang adalah kalimat yang disusun dalam bentuk majemuk setara atu majemuk campuran. Disebut berimbang karena strukturnya memperlihatkan kesejajaran yang sejalan dan dituangkan ke dalam bangun kalimat yang simetri.
Misalnya :
a)      Jika stabilitas nasional mantap, masyarakat dapat bekerja ndengan tenan dan dapat beribadat dengan leluasa.
b)      Bursa sham tampaknya semakin bergairah, investor asing dan domestik berlomba melakukan transaksi dan IHSG naik tajam.

VI.          Berdasarkan Fungsinya
Menurut fungsinya, jenis kalimat dapat di rinci mejadi kalimat pernyataaan, kalimat pertanyaan, kalimat perintah dan kalimat seruan. Dalam bahasa lisan, intonasi yang khas menjelaskan kapan kita berhadapan dengan salah satu jenis itu, sedangkan dalam bahasa tulisan, di jelaskan oleh bermacam-macam tanda baca.
  A.          Kalimat Pernyataan (Deklaratif)
Kalimat pernyataan dipakai jika penutur ingin menyatakan sesuatu dengan lengkap pada waktu ia ingin menyampaikan informasi kepada lawan bahasanya. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca titik).
Misalnya :
a)      Presiden SBY mengadakan kunjungan ke luar negeri.
b)      Dalam pameran tersebut, pengunjung tidak mendapatkan informasi yang memuaskan tentang bisnis komdominium di kota-kota besar.

B.            Kalimat Pertanyaan (introgatif)
Kalimat pertanyaan dipakai jika penutur ingin memperoleh informasi atau reaksi (jawaban) yang diharapkan. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca tanda tanya). Pertanyaan biasnaya menggunakan kata tanya kenapa, bagaimana, dimana, kapan, dan lain-lain.
Misalnya:
a)      Kapan saudara naik haji?
b)      Mengapa dia gagal dalam ujian?
c)      Kenapa gedung ini dibangun tidak sesuai dengan arsitektur yang telah di sepakati?
d)     Mengapa tidak semua fakir miskin di negara kita dapat dijamin penghidupannya oleh negara?
  C.          Kalimat Perintah dan Permintaan (Imperatif)
Kalimat perintah dipakai jika penutur ingin “menyuruh” atau “melarang” orang berbuat sesuatu. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca titik atau tanda seru).

Misalnya:
a)      Maukah kamu disuruh mengantarkan buku ini ke Pak Sahluddin!
b)      Tolong buatlah dahulu rencana pembiayaannya.
c)      Sebaiknya kita tidak berpikiran sempit tentang hak asasi manusia.
d)     Janganlah kita enggan mengeluarkan zakat kita jika sudah tergolong orang mampu.

  D.          Kalimat Seruan
Kalimat seruan dipakai jika penutur ingin mengungkapkan perasaan yang kuat,  yang mendadak, atau perintah. (Biasanya, ditandai oleh menaiknya suara pada kalimat lisan dan dipakainya tanda seru atau tanda titik pada kalimat tulis).
Misalnya:
a)      Buka pintunya!
b)      Bukan main, cantiknya.
c)      Aduh, tugas saya tida terbawa.

E.            Kalimat Berita
Kalimat berita adalah kalimat yang isinya memberitahukan sesuatu. Dalam penulisannya, biasanya diakhiri dengan tanda titik (.) dan dalam pelafalannya dilakukan dengan intonasi menurun. Kalimat ini mendorong orang untuk memberikan tanggapan.
Macam-macam kalimat berita :
a)      Kalimat berita kepastian
Contoh : Nenek akan datang dari Bandung besok pagi.
b)      Kalimat berita pengingkaran
Contoh : Saya tidak akan datang pada acara ulang tahunmu.
c)      Kalimat berita kesangsian
Contoh : Bapak mungkin akan tiba besok pagi.
d)     Kalmat berita bentuk lainnya
Contoh : Kami tidak taahu mengapa dia datang terlambat.

VII.          Berdasarkan Subjeknya

Kalimat dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

  A.          Kalimat Aktif
Kalimat aktif  adalah kalimat yang subjeknya melakukan suatu pekerjaan/tindakan. Kalimat ini biasanya memiliki predikat berupa kata kerja yang berawalan me- dan ber-. Predikat juga dapat berupa kata kerja aus (kata kerja yang  tidak dapat dilekati oleh awalan me–saja), misalnya  pergi, tidur, mandi, dll  (kecuali makan dan minum).
Contoh:
-   Mereka akan berangkat besok pagi.
-   Kakak membantu ibu di dapur.
Kalimat aktif  dibedakan menjadi 2, yaitu:
1)      Kalimat Aktif  Transitif
Kalimat aktif transitif adalah kalimat yang dapat diikuti oleh objek penderita (O1). Predikat pada kalimat ini biasanya berawalam me- dan selalu dapatt dirubah menjadi kalimat pasif.
Contoh:    Eni mencuci piring.
                  S        P         O1

2)      Kalimat Aktif Intransitif
Kalimat aktif intransitif adalah kalimat yang tidak  dapat diikuti oleh objek penderita (O1). Predikat pada kalimat ini biasanya berawaln ber-. Kalimat yang berawalan me- tidak diikuti dengan O1. Kalimat ini tidak dapat dirubah menjadi kalimat pasif.
Contoh:
-   Mereka berangkat minggu depan.
           S              P                   K
-   Amel menangis  tersedu-sedu di kamar.
           S                          P                        K

3)      Kalimat Semi Transitif
Kalimat ini tidak dapat dirubah menjadi kal pasif karena disertai oleh pelengkap bukan objek.
Contoh:
-   Dian kehilangan pensil.
          S          P            Pel.
-   Soni selalu  mengenderai sepeda  motor ke kampus.
          S                     P                      Pel                   K
  B.          Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan/tindakan. Kalimat ini biasanya memiliki predikat berupa kata kerja berawalan di- dan ter- dan diikuti oleh kata depan oleh.
Kalimat pasif dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
1)      Kalimat Pasif  Biasa
Kalimat pasif ini biasanya diperoleh dari kalimat aktif transitif. Predikat pada kalimat ini berawalan di-,ter-,ke-an.
Contoh:
-   Piring dicuci Eni.
 S        P      O2
2)      Kalimat Pasif Zero
Kalimat pasif zero adalah kalimat yang objek pelakunya(O2) melekat berdekatan dengan O2 tanpa disisipi dengan kata lain. Predikat pada kalimat ini berakhiran -kan dan akan terjadi penghilangan awalan di-. Predikatnya juga dapat berupa kata dasar berkelas kerja kecuali kata kerja aus. Kalimat pasif zero ini berhubungan dengan kalimat baku.
Contoh:
-   Ku pukul adik.
    O2    P      S
-   Akan  saya sampaikan pesanmu.
                O2        P               S
Cara mengubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif :
a)      Subjek pada kalimat aktif dijadikan objek pada kalimat pasif.
b)      Awalan me- diganti dengan di-.
c)      Tambahkan kata oleh di belakang predikat.
Contoh :   Bapak  memancing ikan. (aktif)
                        Ikan  dipancing oleh bapak. (pasif)
d)     Jika subjek kalimat aktif berupa kata ganti maka awalan me- pada predikat dihapus, kemudian subjek dan predikat dirapatkan.
Contoh :   Aku harus memngerjakan PR. (aktif)
                 PR harus kukerjakan. (pasif)

VIII.          Berdasarkan Maknanya

A.            Kalimat Ambigu (Bermakna Ganda)

Perhatikan struktur kalimat yang bermakna ambigu berikut ini.
1.      Istri pegawai yang gemuk itu berasal dari Surabaya.
2.      Saya telah memiliki buku sejarah demokrasi yang baru.
3.      Sumbangan kedua sekolah itu telah kami terima.
Kalimat-kalimat di atas memiliki makna ambigu (ganda) sehingga dapat membingungkan orang yang membacanya.
Pada kalimat 1, siapakah yang gemuk, pegawai atau isteri pegawai? Kalimat itu memang mengandung dua makna:
·         Pertama, yang gemuk adalah pegawai; atau
·         Kedua. yang gemuk adalah isteri pegawai.
Pada kalimat 2, apanya yang baru, bukunya, sejarahnya, atau demokrasinya? Kalimat itu bisa bermakna ambigu:
·Pertama, bukunya yang baru;
·Kedua, sejarahnya yang baru; dan
·Ketiga, demokrasinya yang baru.
Pada kalimat 3, juga terdapat makna ambigu:
·Pertama. ada dua kali sumbangan yang diberikan oleh sekolah itu; atau
·Kedua, ada dua sekolah yang menyumbang.
Untuk menghindari ambiguitas makna, kalimat 1 dapat dirumuskan sbb.:
a)      Jika yang gemuk adalah isteri pegawai, maka dapat ditulis sebagai berikut: Istri-pegawai yang gemuk itu berasal dari Surabaya. Penggunaan tanda hubung (-) dapat memperjelas bahwa kedua kata itu (isteri dan pegawai) merupakan satu kesatuan, sehingga kalimat itu bermakna yang gemuk adalah istri pegawai. Atau dapat pula dirumuskan sebagai berikut: Pegawai yang isterinya gemuk itu berasal dari Surabaya.
b)      Jika yang gemuk adalah pegawainya, maka dapat dirumuskan sebagai berikut: Pegawai yang gemuk itu istrinya dari Surabaya.
Untuk kalimat 2:
a)      Jika yang baru adalah bukunya, ditulis sebagai berikut: Saya telah memiliki buku-sejarah-demokrasi yang baru, atau Saya telah memiliki buku baru tentang sejarah demokrasi.
b)      Jika yang baru adalah sejarahnya, ditulis sebagai berikut: Saya telah memiliki buku tentang sejarah-demokrasi yang baru.
c)      Jika yang baru adalah demokrasinya, ditulis sebagai berikut: Saya telah memiliki buku sejarah tentang demokrasi yang baru
Untuk kalimat 3:
a)      Jika yang dimaksud ada dua kali sumbangan, ditulis sebagai berikut: Sumbangan yang kedua sekolah itu telah kami terima.
b)      Jika yang maksud ada dua sekolah yang menyumbang, ditulis sebagai berikut: Sumbangan kedua-sekolah itu telah kami terima

Kalimat utama atau kalimat pokok atau kalimat topik adalah kalimat tempat menuangkan pokok pikiran atau gagasan utama. Pokok pikiran atau gagasan utama sama dengan ide pokok gagasan pokok.
Kalimat penjelas adalah kalimat yang berisi gagasan yang mendukung atau menjadi penjelasan kalimat utama. Kalimat-kalimat penjelas dalam setiap paragraf harus membentuk satu kesatuan gagasan. Dalam komposisi hal itu disebut kohesif. Di samping itu, hubungan antara kalimat satu dengan kalimat yang lain dalam satu paragraf harus saling berhubungan yang disebut koheren.

KALIMAT EFEKTIF
Kalimat efektif ialah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis. Kalimat sangat mengutamakan keefektifan informasi itu sehingga kejelasan kalimat itu dapat terjamin.
Sebuah kalimat efektif mempunyai ciri-ciri khas, yaitu kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan makna, kehematan kata, kecermatan penalaran, kepaduan gagasan, dan kelogisan bahasa.

  A.          Kesepadanan
Yang dimaksud dengan kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.

Kesepadanan kalimat itu memiliki beberapa ciri, seperti tercantum di bawah ini. 

1)      Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas. Ketidakjelasan subjek atau predikat suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam bagi untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek.
Contoh:
a)      Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah.(Salah)
b)      Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (Benar)

2)      Tidak terdapat subjek yang ganda
Contoh:
a)      Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen.
b)      Saat itu saya kurang jelas.

Kalimat-kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara berikut.
a)      Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen.
b)      Saat itu bagi saya kurang jelas.

3)      Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal
Contoh:
a)      Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
b)      Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki.

Perbaikan kalimat-kalimat ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, ubahlah kalimat itu menjadi kalimat majemuk dan kedua gantilah ungkapan penghubung intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat, sebagai berikut.

a)         Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
Atau
Kami datang terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
b)        Kakaknya membeli sepeda motor Honda, sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki.
Atau
Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Akan tetapi, dia membeli sepeda motor Suzuki.

4)      Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contoh:
a)      Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu.
b)      Sekolah kami yang terletak di depan bioskop Gunting.
Perbaikannya adalah sebagai berikut.
a)      Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.
b)       Sekolah kami terletak di depan bioskop Gunting.

  B.          Keparalelan
Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, jika bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh:
a)      Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes.
b)      Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang. 

Kalimat a tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili predikat terdiri dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu, sehingga menjadi :

Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes.

Kalimat b tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang,pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan baik kalau diubah menjadi predikat yang nomial, sebagai berikut: Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.

  C.          Ketegasan
Yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat.

1)      Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
Contoh:
a)      Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.(Penekanannya ialah presiden mengharapkan.)
b)      Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya. (Penekanannya Harapan presiden).
Jadi, penekanan kalimat dapat dilakukan dengan mengubah posisi kalimat.

2)      Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
Seharusnya:
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.

3)      Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.

4)      Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.

5)      Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
Saudaralah yang bertanggung jawab.



  D.          Kehematan
Yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Peghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.

1)      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek. 
Perhatikan contoh:
a)      Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
b)      Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui bahwa presiden datang.

Perbaikan kalimat itu adalah sebagai berikut.
a)      Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
b)      Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui bahwa presiden datang.

2)      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
Contoh :
a)      Ia memakai baju warna merah.
b)      Di mana engkau menangkap burung pipit itu?

Kalimat itu dapat diubah menjadi
a)      Ia memakai baju merah.
b)      Di mana engkau menangkap pipit itu?

Kata merah sudah mencakupi kata warna.
Kata pipit sudah mencakupi kata burung.

3)      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
Contoh:
a)      Dia hanya membawa badannya saja.
b)      Sejak dari pagi dia bermenung.

Kalimat ini dapat diperbaiki menjadi
a)      Dia hanya membawa badannya.
b)      Sejak pagi dia bermenung.

4)      Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Misalnya:
Bentuk Tidak Baku                              Bentuk Baku
para tamu-tamu                                    para tamu
beberapa orang-orang                          beberapa orang

   E.          Kecermatan
Yang dimaksud dengan cermat adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda. Dan tepat dalam pilihan kata. Perhatikan kalimat berikut.

1.      Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah.
2.      Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan.

Kalimat 1 memiliki makna ganda, yaitu siapa yang terkenal, mahasiswa atau perguran tinggi dan pada kalimat 2 memiliki makna ganda, yaitu berapa jumlah uang, seratus ribu rupiah atau dua puluh lima ribu rupiah.

Perhatikan kalimat berikut:
·      Yang diceritakan menceritakan tentang putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri.

Kalimat ini salah pilihan katanya karena dua kata yang bertentangan, yaitu diceritakan dan menceritakan. Kalimat itu dapat diubah menjadi :
·      Yang diceritakan ialah putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri.


   F.          Kepaduan
Yang dimaksud dengan kepaduan ialah kepaduan ialah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.

1)      Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris. Oleh karena itu, kita hidari kalimat yang panjang dan bertele-tele.
Misalnya:
Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu dan yang secara tidak sadar bertindak ke luar dari kepribadian manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan yang adil dan beradab.
Seharusnya:
Kita harus mengembalikan kepribadian orang-orang kota yang terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu dan secara tidak sadar bertindak ke luar dari kepribadian manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan yang adil dan beradab.

2)      Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.

a)      Surat itu saya sudah baca.
b)      Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan.

Kalimat di atas tidak menunjukkan kepaduan sebab aspek terletak antara agen dan verbal. Seharusnya kalimat itu berbentuk
a)      Surat itu sudah saya baca.
b)      Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.

3)      Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Perhatikan kalimat ini :
a)      Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat.
b)      Makalah ini akan membahas tentang desain interior pada rumah-rumah adat.
Seharusnya:
a)      Mereka membicarakan kehendak rakyat.
b)      Makalah ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat.

G.          Kelogisan
Yang dimaksud dengan kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.

Perhatikan kalimat di bawah ini.
a)      Waktu dan tempat kami persilakan.
b)      Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini.
c)      Mayat wanita yang ditemukan itu sebelumnya sering mondar-mandir di daerah tersebut.

Kalimat itu tidak logis (tidak masuk akal). Yang logis adalah sebagai berikut.
a)      Bapak Menteri kami persilakan.
b)      Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini.
c)      Sebelum meninggal, wanita yang mayatnya ditemukan itu sering mondar-mandir di daerah tersebut.

KALIMAT INTI, LUAS, DAN TRANSFORMASI
  A.          Kalimat Inti
Kalimat inti adalah kalimat mayor yang hanya terdiri atas dua kata dan sekaligus menjadi inti kalimat.
Ciri-ciri kalimat inti:
·      Hanya terdiri atas dua kata.
·      Kedua kata itu sekaligus menjadi inti kalimat
·      Tata urutannya adalah subjek mendahului predikat.
·      Intonasinya adalah intonasi “berita yang netral”. Artinya: tidak boleh menyebabkan perubahan atau pergeseran makna laksikalnya.
Contoh:
a)        Adik mengangis.

  B.          Kalimat luas
Kalimat luas adalah kalimat inti yang sudah diperluas dengan kata-kata baru sehingga tidak hanya terdiri dari dua kata, tetapi lebih.
Contoh:
a)      Radha, Arief, Shinta, Mamas, dan Mila sedang belajar dengan serius, sewaktu pelajaran matematika.

  C.          Kalimat transformasi
Kalimat transformasi merupakan kalimat inti yang sudah mengalami perubahan atas keempat syarat diatas yang berarti mencakup juga kalimat luas. Namun, kalimat transformasi belum tentu kalimat luas.Contoh kalimat inti, luas, dan transformasi.
Contoh:
1)      Dengan penambahan jumlah kata tanpa menambah jumlah inti, sekaligus juga adalah kalimat luas.
Contoh:
 Adik menangis tersedu-sedu kemarin pagi.

2)      Dengan penambahan jumlah inti sekaligus juga adalah kalimat luas.
Contoh:
Adik menangis dan merengek kepada ayah untuk dibelikan computer.

3)      Dengan perubahan kata urut kata.
Contoh:
Menagis adik.

4)      Dengan perubahan intonasi.
Contoh:
Adik menangis?


 Referensi :
Buku catatan Bahasa Indonesia kelas IX

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar